Ceritera tentang perjanjian persaudaraan (pela) Antara negeri-negeri Tamilou, Hutumuri dan Sirisori, Oleh A. Sopaheluwakan. Diterima dari Tante Ci Thenu, sekitar 1965. I. Penduduk gunung batu di Hatumeten. Pada permulaan abad yang keenambelas adalah dua orang laki bini berdiam pada gunung batu dinegeri Hatumeten (dibahagian selatan Pulau Serang). Mereka itu mempunyai 3 orang anak laki2, yaitu: yang sulung bernama Temanolle, yang tengah bernama Simanolle, dan yang bungsu bernama Silaloi; dan lagi 2 orang anak perempuan, yang bernama Nyai Intan dan Nyai Mas. Ketika itu ibu bapa dan anak2nya itu masih kafir. II. Peperangan di Hote-banggoi. Sesudah anak2 itu besar, maka terjadilah peperangan antara orang2 Portugis dan orang2 negeri Hote banggoi (dibahagian selatan Pulau Serang). Waktu itu di Hote banggoi adalah seorang gadis, yang terlalu amat cantik parasnya, namanya Nyai Burnama. Banyaklah kapitan diPulau Serang yang ingin kawin dengan Nyai Burnama itu, sehingga masing2 menunjukkan gagah perkasanya beberapa bulan membantu orang2 Portugis akan mengalahkan orang2 Hote banggoi, tetapi sia2lah usahanya. Setelah khabar peperangan itu kedengaran di Hatumeten, maka bermupakatlah Temanolle, Simanolle dan Silaloi dengan diam2, lalu pada tengah malan (dengan tidak ketahuan kedua saudaranya perempuan dan ibu bapanya) ketiga turun kepantai, menolak kora2 (perahu), kemudian berlayar ke Hote banggoi. Tatkala tiba dipelabuhan Hote-banggoi, maka perahu2 kapitan yang mendahuluinya sudah penuh sesak dipelabuhan, sehingga perahu ketiga orang bersaudara itu tidak dapat mendarat. Sebab itu diikatnya perahunya Pada perahu yang terlebih jauh dilaut, lalu ketiganya meniti pada perahu2 yang lain, sehingga sampai ketepi pantai. Mereka itu ditanya oleh kepala Portugis begini: "Dari mana kamu datang dan kemana hendak pergi?" jawabnya: "Kami datang dari hatumeten kemari akan membantu orang2 Portugis berperang melawan orang2 Hote-banggoi." Kepala Portugis itu bertanya pula: "Bolehkah?" jawab ketiganya: "Tanggung baik!" Sudah itu kepala Portugis itu menyerahkan peperangan itu diatur oleh 3 orang bersaudara itu. Ketiganya mengatur perang itu begini: segala kapitan Patalima sebelah utara dan semua kapitan Patasiwa sebelah barat, lalu sama2 menyerang orang2 Hote-Banggoi. Sesudah berperang 3 hari lamanya, maka tiba2 Temanolle, Simanolle dan Silaloi meniup kulit bianya, lalu kalahlah orang2 Hote-Banggoi. Terjadilah kesukaan yang amat besar diantara orang2 yang menang, pesta beberapa hari lamanya, dibunuh banyak sapi. Ketiga orang bersaudara itu minta makan hati dan jantung sapi saja. Ketika berpesta itu Temanolle masuk keluar rumah di Hote-Banggoi, serta berpakaian seperti orang disitu, rupanya hendak masuk Islam. Hal itu tidak disetujui oleh Simanolle dan Silaloi, lalu keduanya mengajak Temanolle, supaya ber-sama2 keluar dari Hote-Banggoi, berlayar ke Ambon. Sesudah sepakat, maka mereka menyatakan maksudnya kepada kepala Portugis itu. III. Perangkatan dari Hote-Banggoi ke Hatumari. Setelah perahunya dicap oleh kepala Portugis itu dengan No. 16, maka berangkatlah mereka itu dari pelabuhan Hote-Banggoi, berlayar menyusur pantai Pulau Serang, sehingga tiba dipelabuhan Sinau, lalu ketiganya naik kenegeri Hatumari. Disitu kelakuan Temanolle sebagai di Hote-Banggoi juga, serta tidak mau berangkat lagi. Sebab itu Simanolle dan Silaloi bermupakat akan berangkat meninggalkan saudara yang sulung itu. IV. Perjanjian di Hatumari. Sebelum berCerai, maka ketiganya naik keperahu, ikat tiga jari kelingking tangan kirinya dengan tulang daun seribu, belah ujung2 jari itu, tiriskan darahnya kedalam sebuah mangkuk kayu, lalu ketiganya minum dan bersumpah: "Yang satu tidak boleh lupa atau menggagahi yang lain. Siapa yang melawan perjanjian ini, dikutuki Tuhan Allah sampai kepada pupu yang kedua, ketiga dan keempat." Sesudah berjanji demikian, maka yang sulung turun kedarat, tinggal di Hatumari, yang kemudian dipindahkan diubahkan namanya menjadi Musitoa Amalatu atau Tamilou. V. Perangkatan dari Hatumari ke Hatuila. Yang tengah dan bungsu berlayar ke-pulau2 Lease. Sementara berlayar, bertiuplah angin ribut dan turunlah hujan lebat, sehingga tidak kelihatan darat. Keduanya berhanyutan dibawa angin dengan sangat kedinginan. Mereka itu kemalaman dilaut. Setelah siang hari, maka perahunya terkandas di Hatuila atau labuhan Ananas, dibelakang tanjung Ouw. Yang bungsu, yaitu Silaloi, tidak mau berlayar terus lagi. Ia memberi selamat berlayar kepada saudaranya yang tengah, lalu naiklah ia kedarat hingga sampai kesepohon beringin besar. Diperusahnya tempat diamnya disitu dan tempat itu dinamainya Elhou. Kemudian datang juga banyak orang dari lain2 tempat kesitu dan akhirnya negeri itu dipindahkan tempatnya, serta dinamai Louhata Amalatu atau Sirisori. Kerena agama, maka dalam tahun 1717 terpaksalah negeri itu terbahagi dua, yaitu Sirisori Serani dan Sirisori Islam, satu-satu dengan pemerintahnya sendiri. VI. Perangkatan dari Hatuila ke Wai Yori. Sesudah yang bungsu naik kedarat, maka yang tengah, yaitu Simanolle, berangkat dari Hatuila, menuju pulau Molana, terus keteluk Baguala, singgah di Wai Yori. Temmpat singgahnya itu sekarrang dinamai Hutumuri keCil. Dari situ ia naik kedarat dan tinggal di Leunusa, yang kemudian dipindah tempatnya sertai dinamai Siwa Samasuru Amalatu atau Hutumuri. VII. Dua saudara perempuan pergi menCari 3 saudara laki2. Nyai Intan dan Nyai Mas serta ibu bapanya amat berdukaCita, karena Temanolle, Simanolle dan Silaloi sudah lama belum kembali. Sebab itu Nyai Intan dan Nyai Mas meminta izin kepada ibu bapanya, lalu keduanya naik sebuah perahu, pergi menCari ketiga saudaranya laki2 itu. Setelah sampai di Hote-Banggoi, mereka turun bertanya. Maka dikhabarkan orang, bahwa ketiganya sudah berlayar ke Ambon. Kedua orang perempuan itu berangkat pula, berlayarr menyusur pantai. Ketika sampai dipelabuhan Sinau, tampaklah asap api didarat, lalu mereka naik ke Hatumari, kebetulan bertemu dengan kakaknya yang sulung, yaitu Temanolle, yang sudah berpakaian Cara orang Islam dan telah mengganti namanya menjadi Kora. Sesudah mendapat khabar dari Temanolle bahwa Simanolle dan Silaloi sudah terus ke Ambon, maka berlayarlah dua orang perempuan itu, ssehingga singgah di Nusalaut. Keduanya mendapat keterangan dari seorang laki2 yang bernama Berhitu, bahwa dua orang laki2 itu tidak ada disitu. Sebab itu berangkatlah dua orang perempuan itu menyeberang kepulau Saparua, singgah dipelabuhan Hatuila, kebetulan bertemu dengan saudaranya laki2 yang bernama Silaloi, lalu ketiganya naik ber-sama 2 kenegeri Elhau, tinggal disitu beberapa hari lamanya. Silaloi menceritakan bahwa Simanolle sudah terus ke Ambon. Pada suatu hari, tiga orang bersaudara itu turun ke Hatuila, lalu dua orang perempuan itu berlayar menuju kesebelah kiri pulau Molana, kemudian angin timur mengantar keduanya keteluk Baguala, singgah di Wai Yori. Disitu mereka bertemu dengan saudaranya laki2 yang bernama Simanolle, lalu ketiganya naik kenegeri Leunnusa, tinggal disana dengan kesenangan beberapa lamanya. VIII. Nyai Intan dan Nyai Mas kawin. Ketika kapitan Bakarbessy, di Waai, mendengar khabar bahwa ada 2 orang gadis yang elok perasnya di Leunusa, maka pergilah ia kesana meminta Nyai Intan akan menjadi isterinya. Permintaannya itu dikabulkan, lalu mereka kawin. Kemudian keduanya pergi ke Waai. Kapitan Manuhutu di Haria meminta juga Nyai Mas akan menjadi isterinya. Permintaannyapun diluluskan, lalu keduanya kawin. Sudah itu mereka pergi ke Haria. IX. Orang Portugis membakar negeri Leunusa. Makin lama makin ber-tambah2 banyaknya orang yang datang dan tinggal dinegeri Leunusa. Pada suatu hari adalah seorang perempuan dari negeri itu, yang bernama Taina Matutan Souhuwat, turun kepantai akan mengambil air laut. Ia dituruti oleh seekor anjing. Tiba2 datanglah sebuah kapal Portugis, lalu berlabuh dipelabuhan Hunilait. Ketika orang2 kapal itu turun kedarat, maka perempuan itu lari bersembunyi didalam pelepah rumbia. Melihat anjing itu, maka orang2 Portugis itu tahu bahwa disitu ada orang. Sebab itu mereka mencari sehingga mendapat peremppuan itu, lalu dipaksa menunjukkan jalan kenegerinya. Karena ber-ulang2 dipaksa, tetapi ia tiada mau, maka ia di-palu2 dan di-celup2 dalam air laut, sehingga akhirnya ia menunjukkan jalan itu. Tempat perempuan itu disengsarakan, kemudian dinamai Toisapu (=pukul-celup). Setelah orang2 Portugis itu sempat ke Leunusa, maka penduduk negeri itu melawan, tidak mau turun kepantai. Sebab itu negeri itu dibakar, sehingga penduduknya terpaksa lari melindungkan dirinya. Yaitu 70 rumahtangga ke Passo dan 100 rumah tangga ke Siwa Samasuru, dibawah perintah Latu Tampedor. X. Panaskan perjanjian persaudaraan (pela) di Toisapu. Pada suatu ketika Temanolle berangkat dari Hatumari, berlayar ke Hatuila, lalu naik kedarat mendapatkan Silaloi di Elhau. Keduanya ber-sama2 turun ke Hatuila, lalu berlayar ke Wai Yori, sudah itu naik ke Leunusa mendapatkan Simanolle. Setelah tinggal beberapa lamanya di Leunusa, maka pada suatu hari turunlah ketiganya ke Toisapu. Disitu masing2 menyatakan perubahan nama dan tempat tinggalnya. Yaitu Temanolle alias Kora di Hatumari (kemudian berpindah ke Musitoa Amalatu atau Tamilou). Simanille***** alias Kore di Leunusa (lalu berpindah ke Siwa Samasuru Amalatu atau Hutumuri). Dan Silaloi alias Korale di Elhau (akhirnya berpindah ke Louhata Amalatu atau Sirisori). Sudah itu, ketiganya mengulangkan atau memanaskan pula perjanjiannya yang di Hatumari itu. XI. Mengirimkan tanda mata. Setelah memberi selamat tinggal kepada Simanolle, maka berangkatlah Temanolle dan Silaloi dari pelabuhan Hunilait, sedang Simanolle pulang ke Leunusa (lalu berpindah ke Siwa Samasuru Amalatu). Sementara pelayarannya, mereka bermupakat akan mengirimkan tanda mata kepada saudaranya dinegeri Siwa Samasuru Amalatu itu. Yaitu Temanolle akan mengirimkann pohon tebu rotan serumpun dan Silaloi mau mengirimkan pohon sagu serumpun. Setiba dipelabuhan Hatuila, maka Silaloi naik ke Elhau, sedang Temanolle berlayar terus ke Hatumari. Kemudian Temanolle dan Silaloi masing2 mengirimkan tanda matanya kepada Simanolle, dihanyutkan saja dilaut. Maka bahagian kiriman itu, yang tiba kedarat sebelum siang, menjadi pohon tebu dan pohon sagu; tetapi bahagian yang sampai kedarat sesudah siang berubah menjadi pohon tebu2 dan pohon manggi2. Turunan rempun pohon sagu itu sekarangada dibahagian negeri Rutung; kalau pohon sagu itu ditebas rumput sekelilingnya, sudah itu ditebang, maka tidak berisi, meskipun sudah tua. XII. Peraturan adat. Menurut peraturan adat orang tua2 pada zaman dahulu, maka penduduk negeri2 Tamilou, Hutumuri dan Sirisori harus ber-tolong2an. Dan lagi orang laki2 dari salah sebuah negeri itu dilarang bertunangan atau kawin dengan orang perempuan dari negeri yang sebuah lagi. Barang siapa yang melanggar larangan itu dihukum denda 9 gung, 9 pinggan batu, 9 kayu kain putih, 9 kayu kain berang, 9 kain petola, 9 ular mas, 9 peles sopi, 9 tempat sirih lengkap dengan isinya dan 9 ikatan rokok; atau orang itu disalele (direbat) dengan daun kelapa yang muda, lalu diantarkan berkeliling negeri sambil memalu tifa dan gung. Kalau diingat akan perkawinan turun-temurun dalam tiap2 negeri, maka dapatlah dipastikan, bahwa semua penduduk negeri Tamilou, Hutumuri dan Sirisori adalah turunan daripada ketiga moyang itu; jadi terikat pada perjanjiannya. Ingatlah akan kata orang tua2 yang begini bunyinya: "Berdosa kepada Tuhan Allah dapat diampuni;tetapi bersalah kepada nenek moyang tidak dapat diampuni." Jadi kalau melanggar perjanjian itu, maka akan dihukum menurut peraturan adat; lain daripada itu akan mendapat rupa2 susah dalam kehidupan juga. XIII. Tambahan Dibawah ini adalah ayat2 suat (nyanyian) yang dinyanyikan oleh saudara-saudari Hutumuri pada tgl. 27 Januari 1948 waktu mereka mulai tiba dinegeri Sirisori Serani dan lagi pada tanggal 30 Januari 1948 sebelum dan sesudah menceriterakan perjanjian persaudaraan itu dibalai negeri Sirisori Serani. No. 1 SUAT KEPATA. 1. Sopo sopo Siwa Samasuru o, Sopo mulana siwalano sopo (2x). 2. Sopo Musitoa Amalkatu sopo Sopo mulana siwalano sopo (2x). 3. Sopo Louhata Amalatu sopo, Sopo mulana siwalano sopo (2x). 4 Sopo aman telu Hote Banggoi tempat peperangan o, Sopo mulana siwalano sopo (2x). 5. Sopo Hatumari tempat minum darah o, Sopo mulana siwalano sopo (2x). 6. Timi o waya timi heri o, Timi heri o tena waya timi heri o (2x). 7. Yori maso mele maso mele mele o, Lapi2 koni maso mele mele o (2x). 8. Sioh, sioh, sioh laha kona e Laha kona mele manuale sawa o (2x) 9. Hasa2, hasa maro maro e Hasa tanjung Ouw, labuang Ananas o (2x). no. 2 SUAT TANAH. 1. Ada raleng e bumi raleng raleng e, Louhata Amalatu e bumi raleng. 2. Ada raleng e bumi raleng raleng e Louhata Sigumala e bumi raleng. 3. Ada raleng e bumi raleng raleng e, Nulabuang Manuhua e bumi raleng. 4. Ada raleng e bumi raleng raleng e, Kapitan Pasari e bumi raleng. 5. Ada raleng e bumi raleng raleng e, Kapitan Patase e bumi raleng. 6. Ada raleng e bumi raleng raleng e, Kageraka rake bumi e bumi raleng. 7. Ada ilang emara ilang ilang e, Yupu meme intan e peremata. 8. Ada yaing e puli yaing yaing e, Upu latu Kesauliy e puli yaing. 9. Ada yaing e puli yaing yaing e, Upu latu Laya pawaka puli yaing. 10. Ada yaing e puli yaing yaing e, Yau sopo tapa e puli yaing. 11. Latu Sibori e latu Sibori Sibori e, Latu sibori, Luhu latu e berekati same. 12. Latu Sibori, e latu Sibori Sibori e, Latu Sibori, Luhu latu e berekati lesi. No. 3. SUAT LEUNUSA. 1. Leunusa o Leunusa o, Auputu o Leunusa o. (2x) 2. Tumbang o hitu tumbang o, Lili bantu hale hitu tumbang o (2x) 3. Yori maso mele maso mele mele o, Lapi2 koni maso mele mele o (2x) 4. Sioh, sioh, sioh laha kona e, Laha kona mele manuale sawa o (2x) 5. Timi o waya timi heri o, Timi heri o tena labuang Unilai o (2x) 6. Hasa hasa hasa maro maro e, Tanahlah Naniwel petuwari lete o (2x) 7. Niwel e latu Nusaniwel e, Hiku rinda hale latu Nusaniwel e (2x) 8. Leitimur o Leitimur o, Khabarmu cerita Leitimur o (2x) 9. Kapal Anna la o Kapal Anna la o, Kapal lete latu lua labuang Hunipopu o (2x) 10 Latu Kompania latu kebesaran o, Latu Kompania latu kebesaran o (2x) 11. Bangsawan rulu heri kota hatu e, Bangsawan rulu heri Harugajah (*****Jim Collins says "haugajah) o (2x) 12. Latu Sirimau latu Sirimau e, Kapuri mese mese latu Sirimau o (2x) 13. Tanda surat e tanda surat e, Latu grati siwa tanda surat e (2x) 14. Sioh, sioh, sioh laha kona e, Laha kona mele manuale sawa o (2x) No. 4. SUAT JALAN. Wele rula tani tea ina leu hale, Penu penu latu rale hale. Mutabea upu latu, tabea siwa lima o (2x). Sopo siwa lima suka rame rame, Petu jadi latu uli siwa o (2x). sopo yupu e (2x) Sopo leo nini ai sopo yupu e (2x). yana rua lesi wau latu yea o, yana teru o lesi wau latu yea o (2x). Lae lana pati lae lana pati e (2x) Wele Hutumuri latu o, Sili o Soli latu lete Tamilou o, O siwa o siwa uli lima o, Uli lima tasa lena latu telo o (2x). Ele timi o waya timi heri o Timi heri o tena waya timi heri o(2x) Sioh, sioh, sioh laha kona e, Laha kona mele manuale sawa o (2x).