The following was found at the "Perpustakaan Museum Nasional," Jakarta, by Joe Devin, about 1971. It is transcribed from a recording of one of the library attendants reading on tape. She spoke with a heavy Javanese accent (no reliable voicing of "b" and "g"). She would not allow the manuscript to be borrowed,and would not allow a photocopy to be made. The manuscript was written in "huruf Arab Melayu," which she knew poorly,and had been collected in Gorom, perhaps about 1865. Joe Devin paid her to read it on tape. Joe tried to find the manuscript when he returned to Jakarta in 1984,but it seemed to be gone. The lady who served him then was Titi Munawar. It was still virtually impossible to get anything photocopied. KETERANGAN DARI NASKAH No. ML.1173, MUSEUM JAKARTA. Adapun dahulu kala Allah menjadikan dua ekor ular di gunung Ciling-Manila. Maka ke-dua ular itu pertama ular jantan bernama Indar, yaitu Rafisa; kemudian ular betina yang bernama Putri Johani, yaitu Ular Kala. Maka kedua ular itu tinggal diatas gunung Giling. Maka kedua ular itu bersetubuh, lalu setelah bunting, Ular Kala itu beranakkan seorang manusia lelaki yang bernama Lakuruni (or Laturuni, Pelau ancestor). Maka Lakuruni mendapat seorang perempuan namanya, Silang-Hayu-Malaka, yang timbul dari bumi. Setelah beristeri dengan Silang-Hau-Malaka, keduannya mendapat lima orang anak laki2 yang menjadi raja didalam dunia. Pertama, Raja Tiwalila-shah, yang menjadi raja dalam negeri Gunung Kiling-Manila. Maka raja Tiwalila-syah beristerikan Putri Cindaraski. Namanya Rumah Cisaji Yayaju Kujunuya. Maka negeri Makah itu duduk diri Sultan Faksilah. Kedua, Raja Bakramtarasah, yang menjadi raja dalam negeri Kastila. Maka Raja Bakramtarasah beristerikan Putri Kasian Hairan, anaknya Raja Benua Habsyi, dan Raja Habsyi itu namanya Rumah Atayu Kadabakinaran. Ketiga, Raja Mangurni, yang menjadi raja dalam negeri Perangi. Maka Raja Mangurni beristerikan Putri Mangindar, anaknya raja Benua Batik, yang rumahnya nama Rumah Saidikafya tabis. Maka negeri Batik itu duduk dari butul matahari naik. Keempat, Raja Turki, yang menjadi raja dalam negeri Inggeris. Ia beristerikan Tahanukupati-Bandar, anaknya raja Benua Cilaga, yang rumahnya bernama Rumah Wagakahajanu Yayasan. Maka negeri Cilaga itu duduk dari butul utara timur. Maka Raja Turga dengan isterinya, Putri junting-Bandar keduanya tidur malam. Maka Raja Turgi di Sarata dengan Putri junting Bandar hanafis, "Hai Turki turkam, jangan engkau mengambil nyawaku Misraha dingan badan hia." "Turki, jangan engkau mengambil nafas aku, Putri junting-Bandar." Maka sahut Turki, "Aku mengambil nafasmu itu merasai mati itu disana surga janatum naim." Putri Junting Bandar tamat. Kelima, Raja Baframbisbah, yang menjadi raja dalam negeri Pardandis Pirinsi Fulanda, beristerikan Putri Kumalarinasur, anaknya Raja Tun, dari Benua Cina, yang rumahnya bernama Rumah Hayah Gaja Samal. Maka negeri Cina itu duduk dari butul taksina, barat laut namanya. Maka Raja Cina itupun asalnya daripada suatu Ular emas, yang panjangnya seratus depa, bernama Kaja Samal, yang bertempat pada suatu talaga yang bernama Linduskha, yang duduk diatas gunung Salmundur. Maka orang Cina mendapat arta banyak itu datang dari telaga Linduskha juga. Maka Raja Baframpisbah dengan isterinya, Putri Kumalarisanuar, keduanya beranak seorang laki namanya Indar-Patra, yang beristerikan Putri Tunamatu Manikam, anaknya Raja Wawas dari negeri Benua Pandisi, yang Rumahnya namanya Rumah Ihakaku Kanaa. Kemudian ada tiga soa dalam negeri Walanda. Pertama, Soa Perdandi, dengan Raja Perdandis, yang beristerikan Putri Jumudai, anaknya Raja Syanraja. Maka Raja Samraja itu Rumahnya bernama Rumah Dibukan Suga Paya. Maka negeri Samraja itu duduk dari butul matahari miring. Kedua, Soa Perinsi dengan Raja Pirinsi, yang beristerkan Putri Manis, anaknya Raja dari Benua Mukasabalah. Maka Raja Mukasabalah itu rumahnya bernama Rumah Bayanaridi. Maka negeri Mukasabalahh duduk dari kabarat daku itulah. Maka Firman Allah ta Allah Turun-temurun menjadi akan lima orang raja itu menjadikan takluk dalam dunia dengan segala akal dan segala tukannya. Maka Raja Turki itu menjadikan tukan senapang dan obat dan rumah batu dan pemancar harta dalam dunia semuahnya kepada Raja Turki. Jikalau Raja Baframpisbah itu menjadikan tukang prigam dan mariam. jikalau Raja Manikurnia itu menjadi tukang kepalanya dan segala tukang kayu. Raja mangarni juga. Jikalau Raja Mantrisyah (atau Mantarasyah) itu menjadikan tukang kawa dan tulang dan peti kepada raja Baframmantarsyah. juga jikalau Raja Tiwalia Syah itu menjadikan tukang emas dan perak, tetapi dengan pancar (ataukah pencar?). Maka Raja Tawalila-syah itu Rumah Pancar rumahnya. Kemudian Raja Tiwalila-syah itu beristerikan Putri Maliki-Hairan, anaknya Raja Samuraja, yang rumahnya bernama Rumah yaninurlitikafyatabis, namanya itu Awal. Raja Samuraja dari negeri Benua Batik. Maka Raja Tiwalila-syah dengan isterinya Putri Maliki-Hairan itu beroleh tujuh orang laki2. Maka tujuh orang anak rumah bini semuahnya dan menjadikan keemasan dengan petinya emas tujuh. Maka anak tujuh orang itu dinaikkan perahunya tujuh tiang rupanya seperti perahu Cina, dan layarnya seperti Layar Cina. Maka anak tujuh orang itu lalu mau berlayar ke tanah Ambon. Pertama, anak Hukum(Hukom) dengan perahunya dan petinya emas dan segala manusia. Kedua, Apituli (Apitule)(Ihamahu) dengan perahunya dan petinya dan segala manusia. Ketiga, Ihalau Bisi itu dengan perahunya dan petinya emas dan segala manusia. Keempat, Lestuni dengan perahunya dan petinya emas dan segala manusia. Kelima, Sapajih (Sangaji)(Pelau) dengan perahunya dan petinya emas dan segala manusia. Keenam, Patihua dengan perahunya dan petinya emas dan segala manusia. Ketujuh, Pelamoni (Haria) dengan perahunya dan petinya emas dan segala manusia. Maka kemudian ketujuh orang anak itu dinaikkan dengan perahunya, tetapi Suki dari negeri Tidore. Maka anak tujuh orang itu turun didarat berjabah tangan dengan Raja Tidore. Maka Raja Tidore lalu bertitah, "Hai orang dagang, dari mana datang ini?" Mereka menyahut, "Hai Tuan Raja Tidore, kami anak tujuh orang ini bangsa anak Raja Tiwalila Syah dari negerinya Kilin-Manila (Kaf-ya-lam-nun-mim-nun-lam). Maka raja Tidore kasi sebuah bunga kayu rupanya emas dan perak. Maka ujar anak tujuh orang itu, "Tumbu mas dan perak. Latuhila, ketujuh Latihelu, kedelapan Mutuanakota, sembilan Mutuamara. Maka negeri Kulur itu tiga negeri. Pertama Siluyu (sin-lam-ya)(Suli?), Titalau Nasalidikala, kedua Amahulu itu Mutuahalabuti munia, Ketiga pulu itu Watihellusahulaubalaki itu jadi dengan seekor ikan cikalang emas jatuh di......dan hati naga itu jatuh menjadikan negeri (ba-ya-ya panjang) Biya itu dengan suatu kamar bia namanya Orang Kaya Sihaya, dan namanya Rumah Tuni (ta-wau-mim-ya) dan yang Siuta dan rumahnya...namanya Rumah...dan yang kelima Tuku(ta-wau-kaf-wau) dan rumahnya namanya Rumah...dan yang keemam Mana Kinamalisi dan rumah yang pertama Rumah...dan yang ketujuh Nukubali dan yang kesembilan Lilihitu, yang Rumahnya bernama Rumah Suna. *****Amahoru, Watihelu,Sahulau, Sihaya, Siuta,Tuku,Malesi. Maka negeri Bia(Biak?) Malesi (Paperu) Lumalesi (Ou) itu empat soa. Pertama, pohon Rumah Suna itu...Manila. Maka berdiri negeri Suci dari Nusa Silan lalu titurun semuahnya...dari Silan lima zilaf menjadi akan negerinya namanya Satahut (sin-ha-ta) datang Arufura Ulima (Alif-ro-fa-wau-ro-ain-lam-mim) di-punah. Maka orang Manila Rumah Suna, karena orang Rumah Suna itu takut kepada Alifuru dibunuh. Maka semuahnya dihela akan perahunya, maka semuahnya dimuat barang2nya semuahnya diperahu. Maka orang Rumah Suna berkata kepada orang Nusa Selan, "Hai orang Selan, ada suatu katahan (ka-ta-ha-nun) kepada orang Selan itu Gunung Minakilah ubu yeoada aku Rumah Suna dan akhurat kepada aku juga." Kemudian semuahnya Rumah Suna naik di perahu akan berlayar ke tanah...lalu sampai di sana berlayar... Maka Raja Hitu Kotahitu berkata, "Hai Rumah Suna, engkau suka duduk bersama2 aku, Raja Hitu Titahatua (ta-ta-hata-wau)?" Maka Rumah Suna tiada mau suka duduk di tanah Hitu. Maka Raja Hitu Titahatua dengan orang Hitu semuahnya berkelahi. Namanya Lilihitu, artinya "Melihat-keliling-Pulau-Hitu." Lilihitu itu Rumah Suna dikawinkan dengan Milihilipau (mim-lam-ha-lam-pa-wau)(Milihulipawa, anaknya perempuan. Kemudian mengambil suatu perempuan dari Sapalua. Maka perempuan itu teman Hinalua. Maka Hinalua dikawin dengan anak Rumah Suna. Maka Hinalua beranak seorang laki. Maka anaknya itu dikawin seorang perempuan, namanya Nenelua, dengan lakinya anak Rumah Suna. Maka Nenelua dengan lakinya keduanya lari dengan peti emas (biti emas) dan surusuru (sin-ro-sin-ro) lari ditanah Seran. Maka menjadi keemasan di Siran, nama Tamat, dan itu menjadi negeri Nusa itu dengan suatu kamar palubuga namanya Amabili dengan isterinya. Latuhalabiri, kedua Latu nusa, ketiga Latukuhu, keempat Patihalapili (Batihalabili), kelima Batihalasitlah, keenam Batiluhu, ketujuh Lalubu Talubuka. Maka anak tujuh orang itu berbuat suatu kora2, ikat dengan tali diatas antara unjung kayu, kemudian anak laki2 tujuh orang itu naik diatas kora2 (kuru2) antara ujung kayu itu. Maka orang kamar la talubuka dengan isterinya Niahi Sabia disuruhnya akan anaknya tujuh orang, "Hai engkau tujuh orang orang, berlayar sama melihat kepada...tujuh itu dinaiki dekat Allah akan putus tali itu. Setelah perahu terguling dibawah liang dasar, hatu kamar Talabukah dengan isterinya keduanya berkata, "Sio, engkau anak kita tujuh orang itu berlayar (ka-lam-wau pakai hamzah atasnya-ta-wau-ro) kalaoturu juga datangkah atau tiadakah." Maka Sahut Berlayar juga tiada kembali." Maka anak tujuh orang itu mati. ***Amahoru, org. dari Samet(Horuku). Latutalabu katanya,"Berlayar juga, tiada kembali." Maka anak tujuh orang itu mati semuahnya dibawah liang itu. Ini seorang hidup, anak yang kemudian namanya Latubau (lam-ta-wau-ba-wau) Latubau talabuka namanya. "Hai engkau, mana saudaramu sekalian itu, mana?" Maka Latubau Talabuka berkata, "Kami ini mati semuahnya dalam liang itu juga, tinggal aku sendiri juga hidup." Namanya Latubau Talabuka, rumahnya yang bernama Rumah Pelau (pa-lam pakai alif-wau). Maka Talabu ambil dengan isterinya, Piaki namanya, keduanya Manapasa (pisa) akan dengan anaknya anam orang mati dibawah liang itu dihidupi dalam dunia. Maka Latubau Talabuka beristerikan seorang perempuan, Kubaputi (kaf-ba-pa-wau-ta-ha) namanya. Keduanya beranak lima orang. Maka empat orang tinggal di (dari) Ihahulubalu. Maka seorang Talabu, namanya Batikuba(Patikupa?), berlayar keatas Nusa Silan disuki pada negeri Atihahu. Maka orang Atihahu berbuat jahat. Maka berlayar lalu sampai di Seran, dan mati di negeri itu, menjadi akan negeri Matau dengan suatu pati Patilah dengan rumahnya yang bernama Rumah...dan hilangnya negeri itu menjadi akan negeri... dan rumahnya namanya Rumah Suulisa, dan (sin-wau-mati-lalaupakai hamzah, Su'u) dan Patisuulisa itu namanya Lutasalu. Artinya Lutasalu itu berjalan melihat suatu air namanya Salu kering. Maka namanya Litasalu. Dan yang kedua Hitahalu itu dikera akan suatu kayu baru itulah namanya Hitahalu, dan rumahnya bernama...Dan yang ketiga, Litawaila, (Ritawaela) suatu air kering. maka itu namanya Litawaila, dan rumahnya namanya... Dan yang keempat itu Henasiwa , yang membuka...,dan rumahnya namanya Rumah...Maka Henasiwa itu berasal dengan Sahutalai. Maka Henasiwa itu orang dianyut berpandang salamu. Dan yang kelima tukang Tahapari itu orang Nusalaut (atau Tahabai)...dianyut dari (ataukah kepada?) negeri Bubut (ba-ba-ta). Hinasamal dan rumahnya bernama Rumah Hinasamal. Maka Mutuabikalihia dengan Tahapari keduanya berdiri negeri Kaibubu kepada raja Bubut Kuhubari (kuhuparu,kuhubaru). Dan yang kedua Kirimiti namanya, Rumah Samabutia baik dengan negeri Lahi. Maka namanya Bikaluhia karena Bikaluhia berasal dengan Latubalabata dan Luhulima dan Sahubalahi dan Hatumari dan Raja (ta-wau-ba-ta-=ro) Tubatara(?) Kuhubaru dan Kirimiti dan yang ketujuh Limakuwanu - itu datang dari Sahaluu namanya Siwa dan rumahnya namanya Rumah Lumatiwani. Maka berkatahan orang Suulisa itu datang dari Sahaluu namanya Siwa, dan rumahnya bernama Rumah Lumatiwani (Lumatilani?). Maka berkatahan orang Suulisa itu datang dari Pulau Ihalau duduk diberi negeri Latuhulu di dahulukala sampai sekarang.duduk namanya Tubai dari negeri Huli tamat dan teling (ta-lam-ya-ang) negeri itu menjadikan negeri Mahubuti dengan seorang kaya Subusina, berasal dengan Batiiha Tuubisi, dan yang kedua Silahoi, dan rumahnya bernama Rumah Bilu. Dan yang bernama...Kelima Hatumari, dan rumahnya bernama...Keenam Lawalata,Tampuda (ta-mim-pa-wau-dal) Tampuda...lari namanya Lawealata dan rumahnya bernama...Maka Lawalata itu berasal dengan Mutuanakotah beristeri dengan Ikaulatulu Lawalata. Latulu Lawalata Aniusi. Maka Lawalata itu dibunuh orang Cina dari negeri ha'ulabalu. Dan ketujuh Latuniabatimahu, yang rumahnya bernama Rumah Maliki-Tuhau. Maka Latuniabatimahu itu dibubuh taunibatimahuwaiahyu Rajalatu Sulin tunggal(ta-ang-ga-lam) namanya Latuniamatimahu. *****tahapari,Bubut,Kaibobu,Kirimiti,Laha *****Kuhuparu,Silahor, Patiiha,Piru, Hatumeri, Mutuanakata******* (LIST) Mahupesi(ou)Suli Huli(org. Negerilama, berasa dari Seram) Mual (org. Abubu) Matahelumual (org. Tiou, Saparua) Tutupari (Akoon) Lawalata (Paperu,Oma) Luhulima(Nolot) Lawalata(Paperu). (Transcribed from Joe Devin's old notes by Julie Belina, fall, 1989).