From: Nituratu Smith To: devin@alohabroadband.com Date: Mon, 12 Jul 2004 16:33:14 -0700 (PDT) Subject: Tete, ini sadikit cerita legenda dari Oma...................... Tete, ini ada beta pung kumpulan cerita yang beta bisa kirim untuk Tete, for tete baca jua, bikin senang2 hati, tapi kalau tete seng suka akang, yah seng apa2, simpan diTete pung kapala saja, jang ambil dihati lai eeee, Ini cerita, sebetulnya orang tua2 sudah carita akang for katong, waktu masih kecil, lalu kebetulan, itu parkutok dia dapat akang mungkin di majalah/buletin orang Oma di blanda, lalu dia kirim akang for beta, lalu beta kirim akang for Tete jua yah, mungkin Tete bisa baca akang par tambah2 tahu lebe banyak soal ama ateng dong pung asal usul lai !!! karena ini berhubungan langsung dengan keturunan Uneputty............... Ok Tete, selamat membaca..............................dari beta........ Guheba................................................. Batu Singa Di Negeri Oma Terjadinya hubungan pela antara Negeri Oma dan Negeri Kulur. Berlayarlah dua orang laki-laki adik dan kakak. Menurut orang tatua bahwa kedatangan mereka ini dari pulau Kai (p.Ku'ur).Nama kedua adik kakak ini yaitu Pati Nusa yang kakak dan adiknya bernama Ume Putti. Kedua adik dan kakak ini berlayar dan terdampar di tanjung Negeri Kulur yang namanya UmePuti. Turunlah disitu kedua adik kakak ini. Kemudian berkatalah adik nya Ume Puti bahwa dia akan berlayar terus ke utara dan akan kembali lagi. Perpisahan kedua adik kakak ini dengan berbekal sebuah tifa sima buat adiknya, sedang kakak Hau sima. Tifa Sima ini berarti tifa magis dan juga Hau sima yaitu api atau asap magis. bila kedua nya ada dalam susah ,Bila si adik memukul tifa, biar dimanapun kakaknya akan mendengar. Dan pukulan tifa itu pun di hitung sebab ada pukulan tifa tanda susah dan ada tanda kabar baik sesuai perjanjian mereka. Pun Hau sima (hau atau hauw yaitu asap atau api), bila adiknya melihat asap itu tanda kakanya ada dalam susah atau dalam senang itu bisa dilihat dari bentuk asap sesuai perjanjian mereka. Berlayarlah adiknya menuju p. Haruku dengan membawa sebuah Tifa sima . Tifa sima ini bentuk kecil saja. Perpisahan mereka ini terjadi di tanjung Ume Puti di Negeri Kulur yang hingga kini masih ada. Kakanya memberi nama Ume Puti sebagai tanda adiknya itu. Tibalah si adik Ume Puti ini di Negeri Oma. Pada waktu itu sudah ada penduduk tetapi tinggalnya di gunung. Setelah berjalan melewati Batu Naga, tibalah Ume Puti di mata air, tetapi dia kaget sebab air disitu panas. Dan dia pun mengumpul batu-batu karang sebagai pagar atau hatu pele. Tetapi dia kaget ada seorang ama lesi menegurnya, "Dari mana dan ale ini siapa dan datang untuk apa?" Ume Putih terkejut mendengar suara teguran itu dan baru dia tau yang di situ sudah ada penduduknya. Yang menegurnya itu tak lain adalah Kapitan Kaihatu yang pada waktu itu dialah raja pantai. Kaihatu pun membawa Ume Putih ke gunung Ura Teong lalu dikenalkan dengan Raja Patinama dan dia boleh tinggal di sini kalaupun mau. Beberapa lama dia tinggal di situ maka didengar oleh raja bahwa ada anak negriI mati dimakan singa. Raja sangat susah sekali mendengarnya. Sudah dibuat segala macam mawe tapi toh tiap tahun selalu ada korban di Batu Singa itu. Menurut ceritra bahwa setiap korban yang lewat akan mati dan terdampar di pantai deng luka-luka seperti dicakar atau digigit singa. Pun banyak negeri yang dahulu menyerang Negeri Oma mati di cakar singa itu. Kesusahan Raja Patinama ini didengar oleh Ume Putih. Bagaimana dia harus memutar kepala singa itu ? Dia teringat akan kakaknya, Pattinusa, di Kulur. Maka ber jalanlah dia dengan sebuah tifa sima pemberian kakaknya. Tifa sima itupun di pukul tiga kali, lima ketuk. Maka didengarlah oleh kakaknya bahwa adiknya ada dalam susah. Datanglah Pattinusa bertemu dengan adiknya umeputih. Setelah didengar apa maksud raja itu, maka Pattinusa dan adiknya umeputih pergi ke pantai menuju Batu Singa. Tetapi apa yang terjadi? Di sana ada sebuah kora-kora dari Buano terbalik dicakar oleh singa itu. Kedatangan kora-kora Buano itupun untuk mencari tempat di Oma. Makanya singa penjaga marah,pun juga naga mengeluarkan api dari mulutnya sehingga orang negeri menjadi takut. Orang-orang Buano yang hampir mati itu dapat ditolong, dan sebelum kembali ke Buano, mereka berjanji angkat pela bersaudara antara Negeri Oma dan Buano. Hubungan pela ini pun disebut "pela tampa sirih." Tetapi bagaimanakah dengan Batu Singa yang selalu menelan korban itu ? Duduklah tujuh hari lamanya umeputih dan Pattinusa di pinggir pantai. Orang-orang pun dilarang ke laut atau bameti tujuh hari lamanya. Maka laparlah singa dan naga itu. Maka jatuh lunglai lah si singa itu. Maka dengan mudah kepalanya dapat diputar dan matilah singa berubah menjadi batu masif pada kakinya dan hingga kini masih ada. Dan si naga penjaga negeri tetap berada di mata air, dimana bentuk Batu Naga itu selalu mengeluarkan air panas maksiat sebagai obat dan kekuatan anak Negeri Oma. Sedangkan sebelum Pattinusa kembali ke Kulur maka raja dan saniri Negeri Oma mengangkat pela dengan Negeri Kulur sebagai tanda terima kasih--sebagai pela keras, atau batu karang, tetapi bukan pela tampa sirih. Hingga kini bukti persaudaraan itu masih ada. Ume Putih di Oma ini berubah menjadi Uneputi, dan menjadi kepala dari Soa Latu Ei. Nama ume puti inipun sebagai nama tanjung di Kulur yaitu Ume Putih (uneputti), dan patinussa, kakaknya, memberikan tulang ikan pari kepada Raja Patinama sebagai tanda saudara dan pela. Tifa kecil Ume Putih ini sebagai tanda. Dan selalu dibuat tifa yang sama kalau ada acara negeri: buka sasi, makang patita, biking bersi negeri. Dan pula di hutan kalau ada masohi kayu atau pagar kebong, maka tifa kecil ini dipukul berulang-ulang dan menambah semangat anak-cucu Negeri Oma bekerja. Begitulah ceritranya hubungan pela antara Negeri Oma dan Negeri Kulur.